eCourse Buat Buku dengan A.I. (Artificial Intelligence) is already lauched! Watch
Published in
Education
Writen by Bery Manurung
16 August 2023, 03:08 WIB

Filosofi Terung dan Emping

Dahulu sekali, ketika masih sekolah dasar, saya sangat tidak menyukai sayur terung. Entah mengapa, rasa liat disertai ada rasa pahit dan berwarna belang tak mengundang selera. Walaupun saya tahu, katanya ( ini menurut orang tua saya ) terung menyehatkan. Tidak ada embel-embel keterangan lain selain kata menyehatkan. Saya mengiyakan dengan keterpaksaan, walaupun hampir muntah—ketika akhirnya, gaya peristaltik di kerongkonganlah yang membantu saya menelannya. 

Beranjak remaja, saya juga tidak menyukai emping. Tepatnya kerupuk emping. Saya mengetahuinya ketika saya terpaksa memakan emping yang saya kira enak  karena berwarna seperti keju. Kisah “tragedi emping” ini terjadi ketika berkunjung hari raya lebaran kerumah si mbah Juli, tetangga rumah. Saya ceritakan latar belakangnya secuil agar anda bisa membayangkan mbah Juli Tuminem yang jagoan masak ini. Mbah ini di seantero kampung saya sangat tersohor. Beliau ini, sangat enak meracik dan mengolah bubur ketan hitam yang dicampur dengan kuah santan. Plus, kolak pisang dan keladi yang menjadi hits di bulan puasa. Bahkan, ramai antri pembelinya menjelang berbuka.

Namun, entah mengapa, saat lebaran kesekian, makanan tersebut tidak di hidangkan kepada saya sebagai bagian gerombolan remaja tengik. Kami memang khusus mengincar menu tersebut. Ada raut penyesalan dan gusar ketika kami tahu, lebaran tahun ini, akhirnya tidak dapat menikmati menu spesial tersebut.

Tak ada bubur dan kolak, kerupukpun jadi. Jadilah, keripik emping sasaran empuk berikutnya. Teman-teman saya sih cukup menikmatinya dengan minuman sirup orange ABC. Tapi bagi saya, ini bagai siksaan penjara Guantanamo yang katanya menyeramkan.! Kalau tidak di makan empingnya, gimana gitu. Pilihan menu lebaran juga tidak banyak. Gak enak sama si mbah ramah dan selalu mengucapkan : “ Ayuk, di makan kerupuknya. Ambil saja”. Penderitaan yang jika dikenang saat ini membuat bibir sulit untuk tidak tersenyum.

Uniknya, beberapa tahun kemudian, saya mendadak seperti mendapatkan berkah atau mungkin bisa di katakan mukjizat yang merubah selera lidah saya ketika makan nasi. Saya menyukai terung rebus yang hanya di campur garam dan bawang menjadi begitu lezat. Begitu pula dengan terung goreng plus cabe ulekan. Bukti saya menganggapnya lezat sempurna, saya sampai menyendok tambahan nasi sampai 3 kali !.

Begitu pula dengan emping. Hanya saja, kenikmatan emping ini sedikit punya pengalaman berbeda. Saya bahkan tergila-gila dengan emping hanya jika di campur dengan semangkuk soto atau lontong. Dan, akan terasa minus kenikmatannya jika saja memakan kerupuk emping dengan prinsip monogami ( Memakan emping tok maksudnya ). Rasanya ada yang mengganjal. Gak sreg gitu.

Nah, jika kita kaitkan dengan simpang siur politik sekarang yang mengarah ke pemujaan tokoh atau pengkultusan seorang pemimpin. Belum lagi jika di kaitkan dengan lembaga-lembaga yang katanya “suci” dan “wakil rakyat”, saya merasa kok ada yang salah. Terlalu terkesan drama. Seolah-olah pejabat tidak pernah keliru. Saya mulai mereka-reka pula, mengapa dunia politik harus mengorek cacat kubu sebelah dan sibuk menyalahkan. Mungkin lupa, bahwa gerombolan pendukung dapat berubah kapan saja.

Politik sendiri bertujuan baik dan kita mengenal demokrasi yang jelas-jelas mengandalkan kata mufakat—mengindikasikan bahwa suara tidak harus bulat, sebulat bulan purnama. Kalau di terjemahkan dalam bahasa politik, memberikan keadilan, kemakmuran bagi bangsa. Itulah tujuan politik sejati. Jadi, mengapa harus diributkan bahkan direbut dengan cara-cara tidak terhormat bahkan sampai menganut paham “radikal” yang mencederai akal sehat , hukum dan rasa kemanusiaan hakiki. Seolah-olah tidak ada jalan damai. Moderat istilah kerennya.

Replay sedikit. Bayangkan, jika saya dulu salah kaprah terus merasakan rasa terung. Tentu ini akan menjadi “fitnah” terung, yang sebenarnya memiliki rasa eksotis di kemudian hari bagi diri saya. Dan, boleh jadi juga, saya akan di demo oleh para chef atau para vegetarian yang menikmati sayur terung.

Kembali ke cerita sayur terung dan kerupuk emping tadi. Anda boleh jadi  sedari kecil menyukai terung dan mendadak tidak suka ketika beranjak remaja. Berkebalikan dengan saya. Apakah hal tersebut menjadi salah ?  Tentu saja tidak. Selera anda mungkin lebih mengarah ke sayur yang terasa manis, misal sayur bayam. Apalagi tokoh kartun Popeye bisa sangat kuat perkasa dengan memakannya. Apakah saya berhak memaki anda dengan mengatakan terunglah paling enak dan sehat atau memaksa anda tetap menyukai terung yang ada pahit-pahitnya ? Atau malah mendoktrin anda seperti orang tua saya dulu yang cukup mengatakan : “terung itu sehat” daripada bayam. Makan sajalah. Tanpa penjelasan masuk akal. Boleh  jadi, anda menganggap saya kurang ajar atau malah menggampar wajah saya.

Begitu pula dengan kerupuk emping. Bukan tidak mungkin anda atau siapa saja memakan emping sambil makan nasi. Karena kenikmatan lebih mengutamakan rasa sedikit pahit yang berpadu dengan rasa manis nasi. Saya tidak menyukai perkawinan rasa seperti itu. Saya akan mual tapi anda merasa nikmat. Tidak ada yang salah. Yang salah, anda mengatakan kepada kawan , saudara, dan tetangga anda ( plus bikin status di media sosial ) bahwa kerupuk emping memang paling enak di nikmati dengan paduan rasa seperti itu. Anda mengatakan kenikmatan tersebut bersifat absolut. Menghujat sesama pemakan emping, andalah yang paling benar cara menikmatinya. Saat itu, bisa jadi saya marah kepada anda. Mungkin kalau ada kesempatan, saya akan adu fisik dengan anda. Bukankah ini awal bara keributan yang kalau kita tidak eling akan membesar menjadi sebuah anarki ?

Bercermin dari hal kedua kisah terung dan emping tersebut, kita dapat mengambil konklusi, rasa lidah bisa berubah seiring dan sesering kita bertambah usia dengan merasakan makanan di kampung ataupun lain negara. Kisah terung dan emping juga menggambarkan secara gamblang dan sederhana, kita sebagai manusia berkembang progresif, sesuai pengalaman dan segudang ragam pengetahuan yang kita rasakan, dengar, bahkan ciptakan. Yang penting mengarah pada keluhuran hati nurani. Halah, opo iki ! hahaha...!

Tidak ada gunanya memaki terung mengapa bentuknya dan warnanya bertotol-totol jelek, malah ditambah rasa yang sedikit pahit. Terlalu naif juga memprotes atau malah sinis melihat orang lain begitu nikmat memakan emping tanpa bertemankan makanan lain, seolah-olah kitalah penikmat sejati yang mempunyai kuasa sempurna dalam memadukan kenikmatan emping. Rasa tidak bisa di paksa atau di manipulasi. Politik juga, kira-kira seperti itu. Jangan seperti sekarang, ribut-ribut hanya karena merasa paling benar dengan label dungu, cebong, kampret dan kadrun. Mungkin, tahun depan ditambah label jangkrik, macan tua, buaya, elang gundul, tawon de el el.

Haluan politik sebenarnya juga bisa sesederhana pilihan orang dalam tatacara menikmati terung & emping. Tidak ada yang 100 persen benar, namun tiada pula yang 100 persen salah. Terung walaupun pohonnya kecil, tapi mampu berbuah besar di bandingkan pohon melinjo ( emping ) yang batangnya berpuluh kali lebih besar. Tapi, kita tak mesti mengutuki pohon melinjo hanya karena berbuah kecil atau malah murka, sampai-sampai menebangnya dengan parang sambil menyalahkan bentuk pohon yang hanya berbuah mini. Padahal anda saja yang pendek akal. Mengamati warna buahnya, ternyata melinjo lebih berwarna menyala dan segar—serasi dengan kebun di belakang rumah atau malah taman. Bahkan, itu tadi, enak buahnya diolah menjadi kerupuk. Ya , toh ?!

Politik atau apapun itu, rasanya asal jangan bawa-bawa isu SARA, 5 S sajalah alias santai sambil senyum-senyum sajalah menikmati Nusantara nan unik ini. Inilah sekelumit pemaparan dan bedah pengalaman pribadi “gueh” akan sayur terung dan melinjo. Ternyata dengan pengamatan dan pengalaman lawas yang konyol, terung dan melinjo bisa bertransformasi menjadi sebuah “filosofi” keren dalam dunia politik dan sikap hidup. Bukan begitu dongan, badunsanak, konco-konco ? Kriukk, udah gigit apa hari ini, bro n sis ? Upssss....

 

Penulis #1 juta pembaca. Nulis aja kok repot ! Gratis seminar & kelas menulis khusus komunitas, kampus, lembaga non profit

writer, influencer and entrepreneur
Cendekiawan Center & Cap Solutions
Comment has been disabled

More from Author

See All Articles
17 August 2023
Jangan Mau Menulis
19 August 2023
Solusi Produktif Bagi Komunitas Difabel
18 August 2023
Terobosan Bisnis Pasca-Pandemi

Discover Peoples

Muhammad Hamidi 0 Post • 1 Followers
Roni Rodiyana 0 Post • 1 Followers
Aslan Alwi 0 Post • 4 Followers
Mukhlis Nur Pancahari 0 Post • 2 Followers
Bery M 0 Post • 1 Followers
© Buatbuku.com - PT. Buat Buku Internasional - Allright Reserved