eCourse Buat Buku dengan A.I. (Artificial Intelligence) is already lauched! Watch
Published in
Productivity
Writen by Moh Toriqul Chaer
16 January 2021, 09:01 WIB

Change Require Purpose-always

Menjadi mahasiswa adalah bagaimana menjadi pribadi yang penuh vitalitas, energik dengan semangat pantang menyerah. Itulah mengapa RI 1, Ir. Sukarno pernah menantang dunia hanya dengan syarat modal hanya 10 orang pemuda saja, ia akan guncangkan dunia. Dalam kajian tafsir hermeneutik, kata pemuda adalah kata yang mengandung makna semangat, vitalitas, visioner dan progresif yang sejatinya menjadi karakter khas para pemuda atau yang mengaku berjiwa muda.

Aktifitas kehidupan yang dijalani mahasiswa seharusnya- menjadi rangkaian mozaik kehidupan yang dirintis agar hidup dan kehidupan diri penuh arti dan kaya makna. Persoalannya adalah jika ada mahasiswa yang terjebak, terbelenggu oleh pemikiran pragmatis, egosentris, anti-kritik dan cenderung eksklusif.Memang tidak enak menjadi mahasiswa, jika paradigma berpikir direkonstruksi secara otomasi hanya untuk datang, duduk, absen, pulang. Begitu roda kehidupan yang dijalaninya, secara terus-menerus seakan tiada akhir. Berani jamin, kekuatan langkah kaki mahasiswa yang berpikir apatis-naif seperti tersebut diatas tidak akan selaju mahasiswa yang didadanya penuh semangat perubahan, education must road to liberate culture !

Jika dilihat dari pola rutinitas yang absurd, kuliah memang seringkali menjemukan, apalagi jika proses pembelajaran di kelas malah berdampak pada penurunan kecerdasan yang kita miliki, begitu ujar seorang teman. Itu baru sisi dari pembelajaran, apalagi jika dihadirkan analisa realitas sosial yang terkadang menyesakkan dada, masih ada stratifikasi sosial di masyarakat kampus kita seperti tesis dari Geertz (1980) yang membagi masyarakat Jawa atas priyayi, santri dan abangan (saat ini tesis dari Geertz banyak menuai kritik, dikarenakan keunikan yang khas pada masyarakat Jawa maka analisa yang dihadirkan tidak serta merta kaku dan absolut). Bedanya adalah, sekarang strata sosial-mahasiswa yang kita lihat sekarang adalah pembagiannya menjadi beberapa varian; yaitu kelompok popculture-materialistik-eksklusif-, tradisionalis-konservatif-progresif dan kelompok minderwaardiigheidcomplex. Lebih ironis lagi jika status mahasiswa; sebagai insan akademik yang seharusnya menghargai perbedaan, malah justru keukeuhpada claim of truth bahwa kelompoknya yang paling benar...

Yang lebih mengenaskan lagi adalah hilangnya semangat perubahan pada diri mahasiswa, tidak mau hijrah dari masa kegelapan, gelap gulita atau yang remang-remang ke masa terang benderang, masih kalah sama tag iklan Philip; terang terus, terus terang. Memang jika melihat dinamika dunia kampus, maka kita akan banyak sekali menemukan warna-warni kehidupan, terkadang dibungkus nuansa romantis hingga kita enggan melupakannya, tapi juga terkadang menjadi alasan utama kita, dunia terasa sempit, kejam dan tak berperikemanusiaana dan itu terjadi karena kita menfokuskan hidup yang telah dan sedang dijalani dengan penuh perasaan dibalut kaca pembesar tragedi.

Change is only possible when we do it with clear purpose. Masalah proses pembelajaran yang menjemukan, budaya firqoh- firqoh, memori nostalgik yang melambungkan angan-angan dan memori tragedi yang memilukan, yang menguras habis air mata kita seharusnya memberikan alasan kepada kita bahwa hidup itu dinamis. Dalam hidup manusia pasti ada senang, ada sedih, ada tawa ada tangis. Dalam filosofi Jawa, proses kehidupan manusia selalu berputar; proses perjalanan manusia tidak pernah akan terjebak, berhenti pada satu kondisi atawa satu peristiwa. Warna-warni romantika hidup akan selalu mengiringi perjalanan kehidupan manusia. Proses kehidupan yang dinamik sesungguhnya justru- akan membuat hidup manusia semakin lebih mulia dan bermartabat, cara pandang akan menjadi lebih arif dan cara menyelesaikan masalah akan menjadi lebih bijak.

Jadi bersyukurlah, jika Tuhan mengujimu !, karena dengan ujian yang menimpamu tidak lain adalah sarana menuju kemuliaan, bukankah Gatotkaca sakti setelah menempuh ujian kawah Candradimuka? begitu juga metamorfosa ulat menjijikan ke level kupu-kupu cantik, kesemuanya ditempuh dengan penuh ujian kesabaran. Perubahan juga terkadang memilukan hati, karena harus merelakan orang yang kita kasihi dan kita sayangi.Shakespeare dalam salah satu karya monumentalnya Julius Caesar melukiskan apologi Brutus dimuka rakyat Roma dengan elegan.

Jika ditengah- tengah kalian, ada sahabat Caesar, padanya aku berkata bahwa cintaku pada Caesar tak kurang daripada cintanya. Dan kalau sahabat itu membalas, mengapa Brutus menentang Caesar, inilah jawabku- bukan karena tak cinta pada Caesar tapi karena cinta pada Roma. Apakah kalian lebih suka Caesar hidup, sedangkan kalian semua mati sebagai budak, ataukah Caesar mati hingga kalian semua dapat hidup merdeka? karena Caesar sayang padaku aku menangis untuknya; karena dia beruntung, aku gembira; karena dia berani, ia kuhormati. Tapi karena dia gila kekuasaan, dia kubunuh. Ada air mata untuk cintanya, kegembiraan untuk keberuntungannya, penghormatan untuk keberaniannya, dan kematian untuk kegilaan-nya akan kekuasaan.Siapakah yang hadir disini yang begitu hina hingga ingin jadi orang terbelenggu?... Siapakah yang hadir disini yang begitu busuk hingga tak mencintai tanah airnya?....


Itulah Brutus, sosok yang menyakini bahwa tirani, ketidakadilan, hegemoni-absolut yang dimiliki Julius Caesar harus dihapuskan walaupun pada kenyataannya sangat menyakitkan baginya karena harus mengorbankan orang yang ia kasihi dan ia sayangi, yaitu ayah angkatnya sendiri Julius Caesar!, maka janganlah takut kawan untuk berubah dan melakukan perubahan!...

Your purpose is what really matters for you-this is your most essential driver for any changes in career and life.Manusia secara umum terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan. Kebiasaan baik tentu akan membawa kepada kebaikan, tetapi kebiasaan buruk bisa jadi akan berujung pada kekacauan. Saat kebiasaan memegang kendali semua terjadi tanpa kesadaran. Inilah alasan mengapa perubahan sangat sulit dijalankan. Perubahan kebiasaan perlu alasan yang bukan hanya dipahami, tetapi lebih dari itu, diyakini oleh diri sendiri.

Change is the name for the continuous process to be the best version of yourself.Tiap orang punya kapasitas berbeda untuk berubah. Tapi, kapasitas apapun dalam diri tiap orang berpeluang untuk jadi titik awal (starting-point) perubahan yang bermanfaat, berharga dan bermakna. Coba sebutkan 3 perubahan yang anda kehendaki sekarang? Lebih penting lagi, kenapa mau (baca:perlu) berubah?

Kembali ke cerita masalah paradigma berpikir mahasiswa, terutama para mahasiswi, disamping menghindari tuntutan orang tua yang terkadang memaksa menikah dini. Semoga selain faktor diatas juga perlu dibarengi idealisme atas tafsir nilai-nilai profetis agama yang membuncah; bahwa bagaimanapun juga orang berilmu lebih tinggi derajatnya disisi Tuhan daripada orang tidak berilmu. Purpose perubahan bagi penulis pribadi adalah karena memang penulis adalah manusia.


Hasta La Victoria Siempre !

Comment has been disabled

More from Author

See All Articles
15 January 2021
Gaius Julius Caesar: Divinum Ingenium
17 January 2021
Change Require Purpose-always
16 January 2021
Budaya Ilmu Dan Peradaban Buku

Discover Peoples

siswi wulandari 0 Post • 2 Followers
Supriyanto 0 Post • 2 Followers
Edi Sofyan 0 Post • 0 Followers
Aidil Alfin 0 Post • 1 Followers
Ludi 0 Post • 0 Followers
© Buatbuku.com - PT. Buat Buku Internasional - Allright Reserved